POLA MAKAN DIHUBUNGKAN DENGAN DISMENORE PADA REMAJA DI MTS AR-RAHMAH TASIKMALAYA

Penulis

  • Wifa Silmi Nurhajijah Prodi Sarjana Keperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya, Tasikmalaya 46191, Indonesia
  • Neni Nuraeni Prodi Sarjana Keperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya, Tasikmalaya 46191, Indonesia
  • Neni Solihat Prodi Sarjana Keperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya, Tasikmalaya 46191, Indonesia
  • Ubad Badrudin Prodi Sarjana Keperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya, Tasikmalaya 46191, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.35568/yatafc55

Kata Kunci:

Dismenore, Pola Makan, Remaja

Abstrak

Prevalensi kejadian dismenore pada remaja di Indonesia saat ini masih tinggi. Dismenore adalah nyeri yang dirasakan menjelang dan saat menstruasi akibat adanya kontraksi rahim sebagai akibat peningkatan hormon  prostaglandin. Dampak dismenore pada remaja dapat menurunkan produktivitas sehingga tidak mampu beraktivitas secara normal. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya dismenore diantaranya pola makan, stress, dan gangguan riwayat penyakit penyerta. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan pola makan dengan dismenore pada remaja di MTs Ar-Rahmah Tasikmalaya. Metode penelitian analitik korelatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi seluruh remaja putri di MTs Ar-Rahmah Tasikmalaya  yang sudah mengalami menstruasi dengan teknik proportionate stratified random sampling sebanyak 63 orang. Analisis data menggunakan distribusi frekuensi dan uji Chi-square. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner, untuk pola makan menggunakan FFQ (Food Frequency Questionnaire) dan WaLIDD Score untuk dismenore. Hasil didapatkan bahwa responden yang memiliki pola makan baik dan tidak dismenore sebanyak 14 responden (77,8%), dismenore ringan sebanyak 2 responden (11,1%) dan dismenore berat sebanyak 2 responden (11,1%). Sedangkan yang memiliki pola makan cukup dan tidak dismenore sebanyak 5 responden (22,7%), dismenore ringan sebanyak 14 responden (63,6%) dan dismenore berat sebanyak 3 responden (13,6%). Sedangkan yang memiliki pola makan kurang dan tidak dismenore sebanyak 2 responden (8,7%), dismenore ringan sebanyak 3 responden (13,0%) dan dismenore berat sebanyak 18 responden (78,3%). Hasil uji statistik didapatkan nilai p value = 0,001. Kesimpulan ada hubungan pola makan dengan dismenore pada remaja di MTs Ar-Rahmah Tasikmalaya. Disarankan bagi responden untuk mengubah pola makan dan mulai mengidentifikasi makanan yang dapat memperburuk atau mengurangi gejala menstruasi.

Diterbitkan

2025-03-16