Penerapan Kompres Hangat Untuk Menurunkan Suhu Tubuh Pada NY. E Dengan DHF ( Dengue Hemorrhagic Fever) Di Ruang Melati 3 RSUD Dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya
DOI:
https://doi.org/10.35568/senal.v3i1.7418Keywords:
Dengue Hemorrhagic Fever, Hipertermia, Kompres hangatAbstract
Demam berdarah atau dengue hemorrhagic fever (DHF)
merupakan penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh virus dengue, yang
ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Infeksi ini terjadi ketika
virus masuk ke dalam tubuh dan menyerang sistem imun, memicu respons peradangan sistemik yang menyebabkan berbagai gejala klinis, termasuk
demam tinggi atau hipertermia. Kondisi ini dapat mengganggu pemenuhan kebutuhan dasar manusia, khususnya kebutuhan dalam proses regulasi suhu tubuh. Ketika suhu tubuh meningkat melebihi suhu normal dan tidak segera ditangani, dapat terjadi gangguan pada fungsi fisiologis seperti kejang, dehidrasi, gangguan metabolisme, hingga syok yang berpotensi mengancam nyawa. Tujuan studi kasus ini yaitu menganalisis Evidence Based Practice kompres hangat untuk menurunkan suhu tubuh pada Ny. E dengan DHF. Hasil pengkajian didapatkan data Ny. E mengeluh demam, mengeluh nyeri ulu hati, nyeri sendi dan sakit kepala, kulit Ny. E teraba hangat, tampak kemerahan dan terdapat bintik merah (patekie) setelah dilakukan rumple leed test (uji torniquet positif), dengan hasil tanda-tanda vital frekuensi nadi 87 x/menit, frekuensi napas 20 x/menit, SPO2 98%, tekanan darah 128/82 mmHg, suhu tubuh yaitu 39,2ºC. Perencanaan yang disusun untuk mengatasi masalah pada responden yaitu dengan penerapan kompres hangat. Kompres hangat adalah
tindakan dengan menggunakan kain atau handuk yang telah dicelupkan air hangat 30⸰-32⸰C dan ditempelkan pada bagian tubuh tertentu sehingga
memberikan rasa nyaman serta dapat menurunkan suhu tubuh. Implementasi dilakukan sesuai SPO dengan mengukur suhu tubuh terlebih dahulu kemudian meletakkan kompres hangat pada area lipatan tubuh seperti aksila (ketiak) dan lipatan paha, kompres hangat dilakukan selama 10-15 menit dan dilakukan 1 kali sehari. Hasil penerapan menunjukkan bahwa terdapat penurunan suhu tubuh, hipertermia teratasi setelah dilakukan implementasi selama 3 hari, suhu tubuh pada hari pertama 39,2ᴑC dan pada hari ke 3 menurun menjadi 36,9 ᴑC. Hasil studi kasus ini menunjukkan bahwa kompres hangat aman serta efektif dalam menangani hipertermia, terutama pada pasien DHF. Hasil studi kasus ini dapat menjadi masukan bagi profesi perawat untuk menjadikan kompres hangat sebagai salah satu terapi nonfarmakologi untuk mengatasi hipertermia.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 The Author(s)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.








